Lemon’s 1st Birthday Party

The idea to celebrate Lemon’s birthday came too late. At first, I didn’t plan to celebrate it, at all. First, because I thought Lemon is too young to understand. Second, because I was so busy with the closing project and another job I decided to take. So, a cake with a candle and pray will be just fine.

It was me and Bapak (it refers to Dwi, my husband), talked about it in the late afternoon, after-hours. I forgot who came up with the idea, but then we decided to celebrate it. It’s not gonna be a big party. It will be a party attended by close friends and family, well, including Lemon’s friends.

I asked my aunt to prepare the tumpeng, rendang, sayur asem and es cendol. I ordered the birthday cake and cupcakes from mbak Yuli (here is the link to her webstore: http://bundacorner-cakery.blogspot.com/), bought the snacks (candies, popcorn, donut and marshmellow) at the shop near pasar modern, ordered tupperware for the goodie bag from my cousin.

This party is fully supported by Dimas Basunondo (you can see his portfolio, here: http://dhims.carbonmade.com/). I thank him for everything he has done for me. He made the invitation, goodie bag-thanks card, the accessories for the desert table and lots of ideas, including the wall of wishes. Dimas told me to prepare a space where the guests can write their wishes for Lemon :D

I also made a photo-booth for the guests and prepare my instax mini, so that hey can pose and bring the photo home!

My Mom set the food on the floor! LOL. “Nih, pada makan bareng-bareng aja di bawah ya”, she said. So, while the kids playing outside, the moms, pops and our friends enjoyed the food. FYI, my aunt’s sayur asem, rendang and krecek pedes are the best!

Lemon looked so confused and cranky at first but in the end she enjoyed the party, just like we did :D

Thank you so much, dear friends!

p.s: more photos: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150509224326162.394275.834121161&type=3

Happy 1st Birthday, Lemon!

It’s been 2 weeks since Lemon’s birthday which is on December 29, a day after Linus Torvald’s birthday. Well, it doesnt make any sense but it feels cool knowing the fact, HAHA.

It was one year a go. A cute baby-girl, we named her Lemon, came to the world. Complete our little family. It was magical. I want to experience it again if I could. The feeling when you touch your baby for the first time, its priceless. Now, Lemon is 1 year old. She’s growing healthy. She got (almost) 7 teeth, able to stand while clapping her hands over a song and blabbing a lot. She started to walk, although it only 10 steps ahead. She’s getting smarter and smarter each day. I feel so content.

It’s gonna be a long journey. It’s a battlefield. Having a child means you have to keep learning. So, let’s roll!

Lemon, you know I love you too much. Freddy Mercury once said on his song, too much love will kill you. I dont mind to die because of loving you this much. All I wanna do is to make sure you got what you need (not what you want). I want you to be free. Be happy. Be anything you like. But remember, please be nice. That’s the main rule you got to understand.

Happy birthday, nak!

Love,

Ibu

2nd Weekend Getaway: Bogor

Another weekend getaway…

After visited Bandung few months a go, yesterday we went to Bogor for one only reason: refreshing!

We did nothing but swimming, sleeping and eating! Such a pleasure! :D

After the workload that seems unstoppable, insane trafic and days of hell, I deserve the day off, we deserve it :D

p.s: I recommend Aston Bogor for its excellent hospitality, beautiful view and nice food!

Misskepik Treasure Box Featured on streethijab.com

Dhatu Rembulan from Streethijab.com, wears asymmetric pattern skirt from Misskepik Treasure Box. Thanks a lot, Dhatu!

Cheers!

Laporan Seminggu!

It’s been a very tiring week.

Karena sudah hampir akhir tahun, kami sedang sibuk closing project di kantor. Masih ada utang satu kegiatan lagi sebelum saya memilih ‘mundur’ dari organisasi tempat saya bekerja. Donor Coordination akan diadakan awal Desember. Sampe sekarang saya masih pontang-panting cari venue yang pas sambil ngurusin printilan di sana sini plus ngomel-ngomel. Yeah, right.

Udah sebegitu ‘penuh’ nya di kantor, beberapa hari yang lalu saya harus berurusan dengan kantor Bea Cukai dan Pos Indonesia untuk urusan kiriman barang. Barang yang saya beli berharga USD 40. Seharusnya tidak dikenakan bea masuk. Tapi karena keteledoran mereka memeriksa invoice, jadilah barang itu ‘menginap’ tak tau rimbanya di kantor bea cukai. Setelah diurus, mereka berjanji akan mengirimkanya langsung ke alamat rumah. Tidak boleh diambil langsung. Setelah hampir dua minggu diiringi dengan ping-pong dari pihak kantor pos Tangerang dan BSD, akhirnya barang pesanan saya sampai dengan selamat. Yang bikin saya geli adalah:

1. Bea Cukai gak cek invoice di dalem padahal paket sudah dibongkar.

2. Jarak tempuh pengiriman surat pemberitahuan dari jakarta Pusat ke BSD memakan waktu hampir 2 minggu. Tanggal surat 31 Oktober, saya terima 14 November. Padahal di suratnya, pengurusan hanya bisa dilakukan dalam waktu 7 hari saja. Yamenurutlooh.

3. Pas akhirnya paket udah clear dan dikirimkan ke alamat rumah, saya juga harus menunggu hampir 2 minggu lamanya. Pas cek by phone ke pos Tangerang dan BSD (seperti yang disarankan pihak bea cukai) kami hanya di pingpong kesana kemari tanpa kejelasan. Akhirnya saya dapat surat pengambilan barang. Karena kantor pos nya deket doang dari rumah (satu komplek, satu sektor) maka saya telpon, tanya kenapa kok harus diambil. Jawabanya adalah: takut ibu gak ada di rumah dan berat nya mencapai 6,8 kg jadi terlalu berat. Saya heran, gak mungkin beratnya sampe segitu, tapi sempet kepikiran juga mungkin berat di packing nya. Tetep ya, dua alasan diatas gak masuk akal buat saya. Yiuk.

4. Saya minta diantarkan kerumah tapi tidak mendapat kepastian kapan akan diantarkan. Jadi saya minta mbak Dati ambil ke kantor pos. Barang yang dibilang berat nya 6,8 kg sehingga menjadi salah satu alasan ‘terlalu berat untuk diantarkan’ sebenarnya hanya amplop berisi cincin yang beratnya tidak sampai setengah kilo. Yiuk lagi.

Kadang saya mikir yak, kapan sih kita bisa punya pelayanan masyarakat yang bagus dan profesional? Hanya Tuhan dan supir bajaj yang tau.

Move to the next topic.

Beberapa hari yang lalu saya sempet meledak marah karena merasa ditipu oleh seorang teman. Bukan teman sebenarnya. Hanya teman mengobrol di dunia maya. Singkat cerita, ybs meminjam uang untuk suaminya yang sakit. Karena saya merasa iba pada kedua bayinya, maka dengan enteng saya meminjamkan uang walaupun sempet takut juga kalao dia gak balikin. Karena saya cuma tau email, YM! dan facebook page nya. Mock me now, i deserve it. Harusnya saya gak begitunya percaya. Karena jumlah uang nya lumayan (banget) maka saya tagih dong di hari H perjanjian pengembalian. Eh ngilang aja gitu orangnya. Message saya gak ada dibales satupun. Berselang 2 bulan, tidak ada kemajuan. Saya bahkan mengirim pesan ke suaminya. Facebook nya masih aktif. Tapi sayang, dia tidak membalas pesan yang saya kirim. Bahkan saya di block! HAAHAHAH. Akhirnya saya mulai tulis di wall nya, agak offensive memang. Tapi ya gitulah, udah di ubun ubun :p Nah baru abis itu dia muncul hihihi. Tadi siang dia menelepon saya dan menjelaskan kenapa dia menghilang. Well, to be honest, i dont give a damn. I told her to do anything she likes. Kalo mo dibalikin ya sukur kalo enggak ya sudahlahya nasib saya sih ini, toh dari awal saya yang salah, gampang banget percaya sama orang yang kenal aja enggak. Mehehehe.

Tapi semua itu perlahan-lahan terkikis oleh satu berita gembira. Saya baru saja mendapatkan pekerjaan yang saya idam-idamkan dari dulu *nyengir dulu*. 

Jadi, dulu waktu masih jadi mahasiswa, saya bercita-cita pengen kerja di suatu lembaga internasional yang memerangi kemiskinan, kelaparan, perang dlsb. Saya pernah ingiiin sekali dikirim ke Afghanistan. Muluk-muluk? BANGET! Sekarang saya memang bekerja pada salah satu project di suatu badan internasional. Berhubungan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias. Tapi selama ini rasanya kurang nendang. Karena kerjaan saya kebanyakan di back office. Gak terjun ke lapangan. Rasanya jadi kurang berguna :p

Semakin tua umur saya, list cita-cita pekerjaan itu pelan-pelan saya lupakan. Kalo kata suami saya sih seringnya: pasti nanti ada waktunya. Karena saya adalah orang paling minderan dan pesimisan sedunia, maka kalimat-kalimat penyemangat dari yang tersayang cuma numpang lewat aja di kuping. Hingga suatu hari seorang teman meminta resume saya untuk kemungkinan mengisi salah satu posisi yang dibutuhkan di organisasinya. Lagi-lagi penyakit pesimis dan minder saya kumat. Dengan perasaan pasrah dan tidak berharap, saya kirimkan resume itu. Sebulan (atau lebih saya lupa) kemudian, berita gembira datang. Resume saya diterima. Setelah interview (informal) dengan calon Bos,  kemudian saya mendapatkan pekerjaan itu. Saya melongo gak percaya. Apalagi setelah diberitau kilasan pekerjaanya, saya makin melongo. Saya bisa ‘berjuang’ untuk keluarga kecil saya dan ‘berjuang’ untuk sekitar. Super cool kalo kata suamih :p

Kadang, cita-cita yang sudah hampir terhapus kelelahan (dan kemacetan parah Jakarta, yeah!) bisa menjadi kenyataan pada waktu yang tepat. I’ve been dreaming working in this kinda organization since I was in college. I almost forgot the dream but then someone gave me the chance. How cool is that?

I dedicate this job to Lemon. Suatu hari, Lemon akan mengerti. Di sela-sela waktu yang hanya sedikiiiit untuk menimang dan mengajaknya bermain, Ibu nya melakukan sesuatu yang kecil untuk membantu sekitar dan berusaha menjadikan hidupnya lebih baik. I feel blessed. You just gave my husband his dream job and now mine? You gotta be kidding me :p

Okay, cukup menye-menye nya. I got a looot of things to do. So I better start it or else someone will punch me right on my face :p

About the Job Interview, Traffic Jam and the Baby

I just got back from a job interview. It went well. They want me to join the company but I refused. Yes, I refused the job. The money is pretty good (too good malahan), the job is similar with my current work, the environment is nice. Its an American company doing some oil and electrical engineering. Nice offer.

So why did I refuse? Because I have to work on weekend. Yes, they work from Monday to Saturday. The employer asked me to give an honest answer. I said ‘Im sorry, I cant’. Then I told her about my priority.

I am a Mom to one kid. I have this little family I have to handle. By working on Saturday, even its only half day (8 to 3) I lost some hours of my quality time with husband and Lemon. I dont want to loose the moment.

You know, I need to work, its not about the money, its about me need to do something useful to my self and others. I find it by working, but it doesnt mean that I give less attention to Lemon. I still concern about her health, her development, her menu and another thing mom usually do. Knowing that she’s okay, healthy, loved and cheerful, is enough for me.

I should have known that this is gonna be tough. Working in Jakarta has never been easy. You have to deal with the traffic jam everywhere. You have to deal with a various type of people. Sometimes, in the end of the day, it gives you nothing but exceptional fatigue (iye lebay :p) and a headache. But hey! I am survived and alive, and that feeelllsss good :D . Everyday, at 11 p.m, I come home and find my baby is asleep. In the morning, I just have 2-3 hours playing with her before I join another urban people contribute to the traffic jam, going to the office. Everyday. So, weekend is supposed to be her time. Playing, swimming, cook her a special menu, put her to sleep and blablabla.

The key words are: I dont want to loose the moment.

Yes I need to work but its not everything. I cant sacrifice my little family to my own ego.

Speaking about typical urban worker, by saying I dont have a time, i spend my life on the road, im tired i could die yadda yadda yadda, you may asked me: why dont you quit working or at least go back to Magelang where anything seems so well-organized, no traffic jam, no preassure? First, I need to work to keep me sane, to be useful as I mentioned before. Second, there is no good offer back in Magelang, the little town. Third, I find my passion here.

So, why do I complain, like almost everyday? Its your choice, its your life eat that. Okay, Im sorry if I complain a lot. Human. Yea, excuse I know. (Btw, komplen macet malah udah hampir gapernah, sehari hari mah telen aja)

I tell you, I feel very insulted when someone said: ‘ngeluh macet sendirinya biang kemacetan’ – ‘ngeluh macet sendirinya urban’. I am sorry but you hurt me I could cry. You never walk on my shoes. You have no idea. Do you remember Marzuki Ali? The person who said: “Mentawai itu kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah, Kalau tahu berisiko pindah sajalah” Nah, there you are, sharing the brain, have no sympathy.

I want to back to my hometown, i wish i could. But this pathetic girl has no better option. But anyway, I have a dream to live with my little family far from here and Im working on it. Granny will help me to make it happen, Im sure :)

About the job interview. So yeah, the employer thanked me for being so honest. She also told me that she needs to find another job because working from Monday to Saturday is frustrating. LOL.

I walked out the building, going back to the office. smiling all the way. I am happy that I have passed a job interview well. I still have my claw, sharp :D

Spending Lazy Sunday with The Loved Ones

This is how we spent our lazy Sunday. Playing with the petite bebe. 10 mos Lemon knows how to clap her hands. Whenever she heard someone singing Pok Ame Ame, she starts to clap her hands :D Lemon is also babbling a lot. She knows who is Bapak, where is Meme, imitate the toy saying let’s go and another indescribable words.

My Very First Red Velvet Cupcake

Diniati oleh keinginan membuat sendiri kue ulang taun untuk Lemon, saya mulai tes resep berbagai macam jenis kue. Beberapa hari yang lalu, saya browsing through The Urban Mama’s site. Melihat-lihat jika ada resep kue yang bica dicoba. Salah satu yang menarik adalah Red Velvet Cupcake (RVC).

Hari ini, saya mencoba resep Red Velvet Cupcake. My fav! Seringnya sih selama ini beli, tapi mahil ya boook. Rada gak rela gitu :p Akhirnya setelah mengumpulkan bahan, yang ternyata tidaklah susah, pagi ini saya mulai mengolahnya. Karena saya juga lagi belajar food photography, maka diniatin banget dari awal proses persiapan harus didokumentasikan. Tapi yaampun makjang! Ribet bener yak! (I salute you, Mamin Ditut!). Karena dapur saya gak kena sinar matahari langsung, jadilah saya gotong-gotong meja ke garasi. Masih belum pas juga, akhirnya suami memindahkan meja ke depan jendela kamar. Voila! Sinarnya cantik! Dengan memakai setting diafragma F3.5, rana 1/60 dan ISO 450, jadilah beberapa foto yang yaaalumayanlahya daripada lumanyun!

Anyway, mo ngaku nih. Ketika pertama kali saya nyicipin RVC di salah satu kedai kue, saya pikir kenapa si kue ini merah karena bikinya pake ubi. HAHAHAH, gak tau kenapa kok kepikiranya ubi :p tapi ternyata setelah liat resepya, warna merah nya memang didapat dari pewarna makanan. Ada beberapa versi, teman saya (hi @mummyhilya) bilang, warna merahnya bisa didapat dari campuran dark chocolate dan perasan jeruk lemon. Hmmm, sounds yummy ya :D

After all, I feel so happy hehehe. Kirain bakalan gagal total tapi ternyata, mulus euy, gak kalah sama yang dijual di kedai-kedai cupcake :p Husband ate 2 cup in a row. Katanya enak banget. Well, walopun sama istri sendiri, kalo jelek atau gak enak dia pasti akan bilang yang seeeeada-adanya. Jadi pas dia bilang enak berarti amaaan :D

Oh iya! Resepnya! Hehehe. Ini dia resepnya, silahkan cek link nya ya.

This slideshow requires JavaScript.

Fashion Diary

Waiting for the traffic jam, i decided to post some pictures of my fashion diary. I am not that fashionable or something, I just a person who easily fall to the cute stuffs. Here are some of them :D

This slideshow requires JavaScript.

Jemuran Photo dan Ambalan

Sebenernya udah lama kepengen punya ‘jemuran’ tempat pajangan poto-poto dari mini instax. Nyari jepitan dari kayu gak pernah dapet. Konsep pun masih di awang-awang. Maka ide itu pun menguap entah kemana.

Beberapa waktu yang lalu, saya jalan-jalan ke Ace Hardware. Seperti biasa, Ace Hardware dan kata diskon di sebelah logonya adalah combo! Dengan semangat 45 saya dan suami masuk dan mulai melihat mana yang kita butuhkan. Sayang, penyakit oh-ini-lucu-bisa-buat-ini-itu-juga-semuanya-aja-beli kadang menyerang. Tapi, karena keingetan tabungan yang udah mulai pelan-pelan terkikis *alah* maka mata kemudian hanya menyortir barang-barang yang lucu-bermanfaat-DISKON!

Saya tidak tau kemana si penjepit kayu ini ketika masa-masa sale berakhir. Kok rasanya tidak pernah ada si penjepit ini nyempil diantara etalase toko. Lebih happy lagi, ada stiker nempel di bungkusnya 50%. BAHAHAHAK. kayak nemu duit sepuluhrebuan di kantong pas jaman kuliah bokek di akhir minggu, senang rasanya!

Maka, hari minggu malam kemarin, setelah membeli perlengkapan lain seperti board, tali, toncopan, lem, kertas warna-warni dan selotip bolak balik, saya mulai membuat prakarya.

Setelah menggambar, mewarnai, menggunting dan menempel. Jadilah jemuran foto seperti ini:

Agak kurang rame kalomenurut saya, tapi malem itu saya keburu encok. Maklum, faktor U :”> Tapi tak apalah, akhirnya foto yang udah lama banget itu akhirnya dipajang :D

Beberapa harta karun yang saya temui di Ace Hardware kemarin adalah papan dan siku. Karena ketempelan stiker 50% makanya harganya jadi mureeeh banget. 2 papan dan siku nya gak sampe 100ribu. Tapi, kata Nyanya dan Iing, yang sudah dahulu mengaplikasikan ambalan (btw, saya baru tau itu namanya ambalan :p) di rumahnya, mereka membeli papan di abang-abang tukang kayu, 90rebu dapet 4 meter. Sebagai ibu-ibu yang berjiwa kompetisi tinggi saya merasa kalah telak! How come mereka bisa dapet yang lebih murah HAHAHAHA.

Si papan dan siku ini berfungsi sebagai tambahan rak buku. Sering beli buku, jarang dibaca *penyakit. Edun yak, mo beli rak buku aja gak kesampean muluk. Kalo ada yang bagus harganya masyaoloooh mahil nya.

I call my home as a playground. Lama-lama kok jadi keliatan kayak TK beneran. Meja kerja saya penuh warna-warni, sofa bed, tempelan kulkas, gagang pintu kulkas, tutup galon, semuanya warna warni gonjreng. Cuma 2 tempat yang plain. Tempat tidur, karena saya dan suami lebih suka memakai bed cover set putih dan ruang kerja suami di belakang yang bukanya plain tapi ah-pusing-ah soalnya banyak kabel dan berantakan :p

Next Page »


a Lemonade

A wife from a geeky-loving-caring husband.
A proud mom from a lovely baby girl, Lemon.
A member of Granny's Garden, to be exact, Ladybug #53.

This is a story of my daily life.
Welcome and enjoy the ride :D

The Urban Mama

The Urban Mama

Fashionese Daily

Meet Me at:


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 260 other followers